Beranda Profil Wisata Fasilitas Tiket Artikel
Edukasi Perkebunan

Cara Menanam Singkong dengan Baik

📅 Dipublikasikan pada 21 Jul 2026 ✍️ Oleh Admin
Cara Menanam Singkong dengan Baik
Singkong merupakan salah satu tanaman pangan paling tangguh dan mudah dibudidayakan. Meski tergolong tanaman "bandel" yang bisa tumbuh di berbagai kondisi tanah, Anda tetap memerlukan teknik penanaman yang benar agar hasil panennya tidak kerdil, keras, atau kencur (banyak serat tetapi sedikit isi).

Simak langkah-langkah praktis menanam singkong dengan baik berikut ini:

1. Pemilihan Batang (Stek) Berkualitas
Singkong dikembangbiakkan secara vegetatif menggunakan stek batang. Kunci keberhasilan panen berawal dari kualitas batang yang Anda pilih.

Pilih tanaman induk: Gunakan batang dari tanaman induk yang sudah tua (berusia 8–10 bulan), bebas dari hama/penyakit, dan memiliki histori hasil panen yang bagus.

Bagian batang: Ambil bagian tengah hingga bawah batang. Hindari menggunakan bagian pucuk yang masih muda karena rentan membusuk.

Ukuran potongan: Potong batang sepanjang 20–25 cm dengan potongan bagian bawah dibuat miring/runcing. Potongan miring ini bertujuan memperluas area tumbuhnya akar (calon umbi).

2. Olah Tanah (Persiapan Lahan)
Umbi singkong tumbuh di dalam tanah, sehingga struktur tanah yang gembur adalah syarat mutlak agar umbi bisa berkembang maksimal tanpa tertekan tanah keras.

Gemburkan tanah: Cangkul atau bajak tanah sedalam 25–30 cm. Singkirkan batu-batuan dan rumput liar (gulma).

Buat bedengan: Sangat disarankan membuat bedengan (guludan) dengan tinggi sekitar 30–40 cm dan lebar 50–60 cm. Bedengan memudahkan drainase air dan memberikan ruang yang sangat gembur untuk perkembangan umbi.

Pupuk dasar: Campurkan pupuk kandang/kompos yang sudah matang ke dalam bedengan sebelum ditanami.

3. Teknik Menanam yang Benar
Cara menancapkan batang stek sangat mempengaruhi hasil panen:

Arah mata tunas: Pastikan mata tunas menghadap ke atas (jangan sampai terbalik!). Jika terbalik, tanaman tetap bisa tumbuh tetapi batangnya melengkung dan pertumbuhan umbinya terganggu.

Kedalaman menanam: Tancapkan stek secara tegak lurus atau agak miring ke dalam tanah sedalam 5–10 cm. Jangan terlalu dalam karena akan menyulitkan saat panen, dan jangan terlalu dangkal agar tanaman tidak mudah roboh tertiup angin.

Jarak tanam: Beri jarak minimal 80 cm x 100 cm antar tanaman. Jarak yang terlalu rapat akan membuat tanaman berebut nutrisi dan sinar matahari, sehingga umbinya menjadi kecil-kecil.

4. Perawatan dan Pemeliharaan
Agar batang singkong dapat memproduksi gula dan pati secara optimal untuk disalurkan ke umbi, lakukan perawatan berikut:

Penyulaman (1–2 Minggu): Cek tanaman setelah 1–2 minggu. Jika ada stek yang tidak bertunas atau mati, segera ganti dengan stek baru.

Pemangkasan Batang (Penting!): Saat tanaman mulai tumbuh, biasanya akan muncul banyak cabang/tunas. Sisakan 1–2 batang utama saja yang paling kuat. Jika terlalu banyak cabang, nutrisi tanaman akan habis untuk menumbuhkan daun, bukan umbi.

Penyiangan Gulma: Bersihkan rumput liar di sekitar bedengan secara berkala, terutama pada usia 1–3 bulan pertama masa pertumbuhan.

Pembumbunan: Seiring tumbuhnya tanaman, tanah di sekitar akar bisa terkikis air. Tutup kembali akar/umbi yang menyembul ke permukaan dengan tanah agar tidak terpapar sinar matahari langsung (umbi yang terkena sinar matahari akan berwarna hijau dan terasa pahit/beracun).

5. Pemupukan Susulan
Usia 1 Bulan: Berikan pupuk yang kaya unsur Nitrogen (seperti Urea) untuk merangsang pertumbuhan daun dan batang.

Usia 3 Bulan: Berikan pupuk NPK atau pupuk yang kaya unsur Kalium (seperti KCL). Kalium sangat penting dalam proses pembentukan dan pembesaran umbi singkong.

6. Masa Panen
Singkong umumnya siap dipanen pada usia 7 hingga 10 bulan setelah tanam (tergantung varietasnya).

Ciri siap panen: Daun-daun bagian bawah mulai menguning dan gugur, serta tanah di sekitar batang mulai retak terangkat oleh umbi di dalamnya.

Cara panen: Potong batang singkong dengan menyisakan sekitar 20–30 cm untuk pegangan, lalu tarik tanaman perlahan ke atas agar umbi tidak patah dan tertinggal di dalam tanah.