Beranda Profil Wisata Fasilitas Tiket Artikel
Edukasi Pembibitan Ikan

Cara Pembibittan Ikan Lele

📅 Dipublikasikan pada 21 Jul 2026 ✍️ Oleh Admin
Cara Pembibittan Ikan Lele
Pembenihan ikan lele merupakan salah satu peluang bisnis perikanan yang sangat menjanjikan. Selain karena permintaan pasar yang tinggi, lele dikenal sebagai ikan yang tangguh dan memiliki siklus reproduksi yang relatif cepat.

Namun, agar menghasilkan benih lele yang sehat, seragam, dan memiliki tingkat kelangsungan hidup (survival rate) yang tinggi, Anda perlu menerapkan teknik pembenihan yang tepat. Simak langkah-langkahnya berikut ini:

1. Pemilihan Indukan Berkualitas
Keberhasilan pembenihan sangat ditentukan oleh kualitas indukannya. Pilih indukan yang sudah matang gondok/gonad dan siap pijah (berusia minimal 1–1,5 tahun dengan berat 1–2 kg).

Ciri Induk Betina Siap Pijah:

Perut tampak membesar dan lembek jika diraba.

Lubang urogenital berwarna kemerahan dan mekar.

Gerakannya relatif lebih lambat.

Ciri Induk Jantan Siap Pijah:

Tubuh langsing, panjang, dan gerakannya lincah.

Alat kelamin menonjol, meruncing, dan berwarna kemerahan.

2. Persiapan Kolam Pemijahan
Kolam pemijahan harus dalam keadaan bersih dan bebas dari racun atau bibit penyakit.

Media Kolam: Bisa menggunakan kolam terpal, semen, atau fiberglass.

KakaBan (Media Telur): Pasang kakaban (dari ijuk yang dijepit bambu) di dasar kolam. Kakaban ini berfungsi sebagai tempat menempelnya telur lele agar tidak tenggelam ke lumpur/dasar kolam dan membusuk.

Kualitas Air: Isi air bersih dengan kedalaman 30–50 cm. Pastikan suplai oksigen cukup (bisa gunakan aerator).

3. Proses Pemijahan (Pematangan & Perkawinan)
Pemijahan bisa dilakukan secara alami atau buatan (suntik hormon/Induced Breeding). Untuk pemula, pemijahan alami paling direkomendasikan:

Masukkan sepasang induk (1 jantan dan 1 betina) yang sudah siap pijah ke dalam kolam pemijahan pada sore hari (sekitar jam 16.00–17.00).

Tutup rapat kolam menggunakan terpal/jaring agar lele tidak melompat keluar, karena proses pemijahan biasanya berlangsung heboh di tengah malam (sekitar jam 23.00–03.00).

Pada pagi harinya, periksa kakaban. Jika sudah dipenuhi telur berwarna kuning kehijauan/transparan, segera angkat dan pindahkan kedua indukan kembali ke kolam pemeliharaan agar telur tidak dimakan.

4. Penetasan Telur
Telur yang menempel di kakaban biarkan rendam di dalam air yang diberi aerasi halus.

Telur lele biasanya akan menetas dalam waktu 24–36 jam (tergantung suhu air, idealnya 28–30°C).

Telur yang berhasil menetas akan menjadi larva segar, sedangkan telur yang gagal menetas akan berwarna putih keruh dan membusuk.

5. Pemeliharaan Larva (Usia 1–15 Hari)
Masa-masa ini adalah fase paling kritis dalam pembenihan lele.

Usia 0–3 Hari: Larva tidak perlu diberi makan karena masih memiliki cadangan makanan berupa kantung kuning telur (yolk sack) di tubuhnya.

Usia 4–10 Hari: Berikan pakan alami berukuran kecil yang mudah dicerna, seperti Cacing Sutra (Tubifex) atau Artemia.

Usia 11–15 Hari: Mulai bisa dilatih mengenalkan pakan buatan berbentuk tepung (powder/crumbles) berprotein tinggi (>40%).

6. Pendedahan dan Penyortiran (Grading)
Setelah berumur sekitar 2–3 minggu, larva lele sudah berubah bentuk menjadi benih/bibit kecil (ukuran 1–2 cm atau 2–3 cm).

Penyortiran Rutin: Pisahkan benih berdasarkan ukurannya setiap 7–10 hari sekali menggunakan ember sortir khusus.

Mengapa sorting penting? Lele memiliki sifat kanibal. Jika benih yang besar dicampur dengan yang kecil, benih kecil akan dimakan oleh yang lebih besar.

7. Pengendalian Hama & Kualitas Air
Jaga kebersihan air dengan rutin membuang kotoran di dasar kolam (siphon) tanpa menguras habis airnya.

Hindari pemberian pakan berlebihan yang menyebabkan sisa pakan mengendap dan menjadi racun amonia.

Gunakan larutan garam krosok atau herbal (seperti ekstrak daun ketapang/daun pepaya) secara berkala untuk mencegah serangan jamur dan bakteri pada benih.